July 2010
M T W T F S S
« Jun    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

MITRA KERJA

 
 
Hosting Murah
 
 
 
Belajar Wordspress
 
 
Photobucket
 
Photobucket
 
Belajar Affiliate
 
 

ALBHA DIY

BELAJAR ON LINE

Blogroll

Galery Foto

Kajian Sabtu Pagi

KBIH "AISYIYAH"DIY

Mutiara Islam

Pemikiran & Peradaban Islam

Home

Categories

Archives

Meta

Fathurrahman Kamal, Lc., M.S.I.[2]

Pengantar

Pada acara pagi ini, 8 Agustus 2008, dalam rangka membersamai mahasiswa baru di Universitas Muhammadiyah Magelang, saya diberi amanah untuk menyampaikan materi yang berkenaan dengan kaum intelektual dan masalah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam term of reference yang ditulis oleh panitia terbaca bahwa pertautan antara rasa kebangsaan dan paham kebangsaan akan melahirkan semangat kebangsaan dalam wujud nyata membela dan berkorban bagi kepentingan bangsa dan negara. Semangat kebangsaan ini dapat mempersatukan segala perbedaan. Semangat inilah yang kian hari makin rapuh karena berbagai faktor internal dan eksternal bangsa itu sendiri. Lalu di manakah posisi kita, intelektual muda muslim? Apa kontribusi yang seharusnya kita dedikasikan kepada bangsa kita yang baru saja merayakan satu abad kebangkitannya?

Membaca resume TOR panitia tersebut, dalam forum ini ada baiknya saya mengajak rekan-rekan untuk kembali mendiskusikan setidaknya dua hal; menentukan starting point (munthalaq) dalam memaknai kehidupan berbangsa dan bernegara serta relevansinya dengan konsep umat; dan potret seorang intelektual muda muslim sebagai pilar utama dalam mewujudkan bangsa yang berkarakter.

Spirit Bukit Shafa : Afirmasi atas Pandangan Hidup Islam

“Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala apa yang telah diperintahkan (kepadamu wahai Muhammad) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik!”.[3] Inilah perintah Allah s.w.t. yang mengakhiri masa dakwah sirriyah (secara rahasia, tersembunyi) sekaligus sebagai deklarasi dakwah pada tataran publik (jahriyah).

Rasululllah naik ke bukit Shafa. Dengan suara lantang beliau berseru “ya shabâhah!”. Seruan ini familiar di kalangan masyarakat Arab sebagai warning kedatangan serangan dari pihak luar. Tidak seorangpun yang lalai. Kawan dan lawan, semuanya bergegas berkumpul di hadapan manusia agung, Muhammad s.a.w. Beliau berkata:”Wahai Bani ‘Abdul Muthalib! Wahai Bani Ka’ab! Jika ku katakan kepada kalian bahwa,di belakang bukit ini ada pasukan musuh yang hendak menyerang kalian, apakah kalian percaya?”. Secara aklamasi mereka menjawab, “Ok, kami percaya wahai Muhammad! Sungguh kami tidak pernah mendapatimu berdusta walau sekali saja.” “Baik! jika demikian, maka ketahuilah sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan untuk kalian tentang adanya adzab yang berat.” Pernyataan tersebut segera disambut oleh Abu Lahab dengan arogan, “celaka kau wahai Muhammad! Apakah hanya untuk mengatakan itu kau kumpulkan kami di tempat ini?!. Melalui Jibril ‘alaihissalam Allah SWT menegaskan kebenaran rasulNya : Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya pasti binasa”[4] (more…)

Tags: